BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kekurangan gizi
hingga kini masih menjadi masalah besar bagi dunia ketiga, termasuk Indonesia.
Masalah gizi menjadi serius sebab akan berdampak pada melemahnya daya saing
bangsa akibat tingginya angka kesakitan dan kematian, serta timbulnya gangguan
kecerdasan dan kognitif anak. Golongan yang paling rentan terhadap kekurangan
gizi adalah ibu hamil, bayi, dan balita. Kecenderungan semakin tingginya angka
Kekurangan Energi Protein (KEP) pada ibu hamil akan meningkatkan risiko
kesakitan dan kematian ibu serta ibu yang melahirkan bayi dengan berat lahir
rendah. Bayi yang lahir dengan berat di bawah normal (2.500 gram) rentan
terhadap gangguan pertumbuhan dan kecerdasan. Anak yang kekurangan gizi saat
lahir atau semasa bayi berisiko tinggi terhadap penyakit jantung dan pembuluh
darah, serta diabetes melitus pada masa dewasa. Risiko kematian akibat
kekurangan gizi juga lebih besar, justru dalam usia produktif. Pada kehamilan, selain terjadi perubahan fisiologis juga disertai perubahan
psikologis.
Selain perdarahan dan infeksi dan kondisi-kondisi non fisiologis,
pre-eklampsia dan eklampsia juga merupakan penyebab kematian ibu dan perinatal
yang tinggi terutama di negara berkembang. Kematian
karena eklampsia meningkat dengan tajam dibandingkan pada tingkat pre-eklampsia
berat. Oleh karena itu, menegakkan diagnosis dini pre-eklampsia dan mencegah
agar jangan berlanjut menjadi eklampsia merupakan tujuan pengobatan. Diperkirakan pre-eklampsia terjadi 5% kehamilan, lebih sering ditemukan
pada kehamilan pertama. Juga pada wanita yang sebelumnya menderita tekanan
darah tinggi atau menderita penyakit pembuluh darah. Karena itu kejadian kejang
ini harus dihindarkan. Maka apabila pre eklampsia tidak diobat secara tepat
bisa berakibat fatal, yaitu kematian bayi yang dikandung, bahkan termasuk
ibunya sendiri.
B.
Tujuan
1. Tujuan umun
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Gizi dan untuk
menambah pengetahuan mahasiswa tentang diet ibu hamil dengan pre-eklamsia dan
eklamsia serta konstipasi.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui pengertian diet ibu hamil dengan
pre-eklamsia dan eklamsia .
b. Untuk mengetahui macam-macam diet ibu hamil
dengan pre-eklamsia dan eklamsia .
c. Untuk mengetahui bagaimana pencegahan kejadian
pre-eklamsia dan eklamsia .
C.
Sistematika Penulisan
LEMBAR JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
B. Tujuan
Penulisan
C. Sistematika
Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pre-eklampsia
1. Pengertian
Pre-eklampsia
2. Etiologi
3. Manifestasi
Klinik
4. Patofisiologi
B. Klasifikasi
Pre-eklampsia
C. Pencegahan
Kejadian Pre-eklampsia dan eklampsia
1. Penanganan
Pre-eklampsia
2. Diet
Komplikasi Kehamilan Pre-eklampsia dan eklampsia
BAB III PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pre-eklampsia
1.
Pengertian
a. Pre-eklampsia (toksemia gravidarum) adalah tekanan darah
tinggi yang disertai dengan proteinuria (protein dalam air kemih) atau edema
(penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu
pertama setelah persalinan. (Manuaba, 1998).
b. Pre-eklampsia
adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan
setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Eklampsia
adalah preeklampsia yang disertai kejang dan/atau koma yang timbul bukan akibat
kelainan neurologi. Superimposed preeklampsia-eklampsia adalah timbulnya
preeklampsia atau eklampsia pada pasien yang menderita hipertensi kronik.
Menurut (Mansjoer et.al 2000)
c. Pre-ekalmpsia
adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan
setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Eklampsia
adalah preeklampsia yang disertai kejang dan/koma yang timbul bukan akibat
kelainan neurologi.Sumperimposed preeklampsia-ekklampsia adalah timbulnya
preeklampsia atau eklampsia pada pasien yang menderita hipertensi kronik.
d. Menurut kamus
saku kedokteran Dorland, pre-eklampsia adalah toksemia pada kehamilan lanjut
yang ditandai oleh hipertensi,edema, dan proteinuria. Eklampsia adalah konvulsi
dan koma, jarang koma saja, yang terjadi pada wanita hamil atau dalam masa
nifas dengan disertai hipertensi, edema dan atau proteinuria.
2.
Etiologi
Penyebab eklampsia dan pre-eklampsia
sampai sekarang belum diketahui. Tetapi ada teori yang dapat menjelaskan
tentang penyebab eklampsia dan pre eklampsia yaitu :
a. Sebab bertambahnya frekuensi pada
primigraviditas, kehamilan ganda, hidramnion, dan mola hidatidosa.
b. Sebab bertambahnya frekuensi yang
makin tuanya kehamilan
c. Sebab dapat terjadinya perbaikan
keadaan penderita dengan kematian janin dalam uterus
d. Sebab jarangnya terjadi eklampsi
pada kehamilan – kehamilan berikutnya
e. Sebab timbulnya
hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma
3.
Manifestasi klinik
Diagnosis pre-eklampsia ditegakan
berdasarkan adanya dua dari tiga gejala, yaitu pemambahan berat badan yang
berlebihan,edema, hipertensi, dan proteinuria. Penambahan
berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali.
Edema terlihat sebagai peningkatan berat badan,pembengkakan kaki, jari tangan,
dan muka.Tekanan darah > 140/90 mmHg atau tekenen sistolik meningkat
> 30 mmHg atau tekanan diastolik > 15 mmHg yang di ukur setelah pasien
beristirahat selama 30 menit. Tekanan diastolik pada trimester kedua yang lebih
dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai tanda preeklampsia. Proteinuria apabila
terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam air urine 24 jam atau pemeriksaan
kualitatif menunjukan +1 atau 2 ;atau kadar protein > 1g /l dalam
urine yang dikeluarkan dengan kateter atau porsi tengah, diambil minimal 2 kali
dengan jarak waktu 6 jam.
Disebut
pre-eklampsia berat bila ditemukan gejaka berikut :
a. Tekanan darah
sistolik > 160 mmHg atau diastolik > 110 mmHg
b. Proteinuria
+> 5 g/24 jam atau > 3 pada tes celup
c. sakit kepala
hebat atau gangguan penglihatan
d. Nyeri epigastrium dan ikterus
e. Edema paru atau sianosis
f. Trombositopenia
g. Pertumbuhan janin terhambat
Diagnosis eklampsia ditegakkan berdasarkan gejala-gajala
preeklampsia disertai kejang atau koma. Sedangkan, bila terdapat gejala
preeklampsia berat dusertai salah satu atau beberapa gejala dari nyeri kepala
hebat , gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium dan keneikan tekanan
darah yang progresif, dikatakan pasien tersebut menderita impending
preeklampsia.
4.
Patofisiologi
Patofisiologi
preeklampsia-eklampsia setidaknya berkaitan dengan perubahan fisiologi
kehamilan. Adaptasi fisiologi normal
pada kehamilan meliputi peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi,
penurunan resistensi vaskular sistemik systemic vascular resistance (SVR),
peningkatan curah jantung, dan penurunan tekanan osmotik koloid (kotak 21-1). Pada preeklampsia, volume plasma yang beredar menurun,
sehingga terjadi hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini membuat perfusi organ maternal menurun,
termasuk perfusi ke unit janin-uteroplasenta. Vasospasme siklik lebih lanjut
menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga
kapasitas oksigen maternal menurun. Vasopasme merupakan sebagian mekanisme
dasar tanda dan gejala yang menyertai preeklampsia. Vasopasme merupakan akibat
peningkatan sensitivitas terhadap tekanan darah, seperti angiotensin II dan
kemungkinan suatu ketidakseimbangan antara prostasiklin prostagladin dan
tromboksan A2. Peneliti telah menguji kemampuan aspirin (suatu inhibitor
prostagladin) untuk mengubah patofisiologi preeklampsia dengan mengganggu produksi
tromboksan. Investigasi pemakaian aspirin sebagai suatu pengobatan profilaksis
dalam mencegah preeklampsia dan rasio untung-rugi pada ibu dan janin. Peneliti
lain sedang mempelajari pemakaian suplemen kalsium untuk mencegah hipertensi
pada kehamilan.
Selain
kerusakan endotelil, vasospsme arterial turut menyebabkan peningkatan
permeabilitas kapiler. Keadaan ini meningkatkan edema dan lebih lanjut
menurunkan volume intravaskular, mempredisposisi pasien yang mengalami
preeklampsia mudah menderita edema paru. Preeklampsia ialah suatu keadaan
hiperdinamik dimana temuan khas hipertensi dan proteinurea merupakan akibat
hiperfungsi ginjal. Untuk mengendalikan sejumlah besar darah yang berfungsi di
ginjal, timbul reaksi vasospasme ginjal sebagai suatu mekanisme protektif,
tetapi hal ini akhirnya akan mengakibatkan proteinuria dan hipertensi yang khas
untuk preeklampsia. Hubungan sistem imun dengan preeklampsia menunjukkan bahwa
faktor-faktor imunologi memainkan peran penting dalam perkembangan
preeklampsia. keberadaan protein asing, plasenta atau janin bisa membangkitkan
respons imunologis lanjut..
B.
Klasifikasi
Pre-eklampsia
Pre-eklampsia digolongkan ke dalam Pre-eklampsia ringan
dan Pre-eklampsia berat dengan gejala dan tanda sebagai berikut:
a. Pre-eklampsia Ringan
1) Tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan
interval pemeriksaan 6 jam.
2) Tekanan darah diastolic 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan
interval pemeriksaan 6 jam.
3) Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu. Edema umum, kaki, jari tangan dan muka.
4) Proteinuria 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif 1
sampai 2 pada urin kateter atau urin aliran pertengahan.
b. Pre-eklampsia Berat
Diagnosa PEB ditegakkan apabila pada kehamilan >20
minggu didapatkan satu/lebih gejala/tanda di bawah ini:
1) Tekanan darah 160/110 mmHg
a) Ibu hamil dalam keadaan relaksasi (pengukuran tekanan
darah minimal setelah istirahat 10 menit)
b) Ibu hamil tidak dalam keadaan his.
·
Oigouria, urin
kurang dari 500 cc/24 jam.
·
Poteinuria 5
gr/liter atau lebih atau 4+ pada pemeriksaan secara kuantitatif.
·
Terdapat edema
paru dan sianosis.
·
Gangguan visus
dan serebral.
·
Keluhan
subjektif
c) Nyeri epigastrium
d) Gangguan penglihatan
e) Nyeri kepala
f) Gangguan pertumbuhan janin intrauteri.
g) Pemeriksaan trombosit
C.
Pencegahan
kejadian Pre-eklampsia dan eklampsia
Pre-eklampsia
dan eklampsia merupakan komplikasi kehamilan ynag berkelanjutan dengan penyebab
yang sama. Oleh karena itu, pencegahan atau diagnosis dini dapat mengurangi
kejadian dan menurunkan angka kesakitan dan kematian. Untuk mencegah kejadian
Pre-eklampsia ringan dapat dilakukan nasehat tentang dan berkaitan dengan:
a. Diet-makanan
Makanan tinggi protein, tinggi
karbohidrat, cukup vitamin dan rendah lemak. Kurangi garam apabila berat badan
bertambah atau edema. Makanan berorientasi pada empat sehat lima sempurna.
Untuk meningkatkan jumlah protein dengan tambahan satu butir telur setiap hari.
b. Cukup istirahat
Istirahat yang cukup pada saat hamil
semakin tua dalam arti bekerja seperlunya disesuaikan dengan kemampuan. Lebih
banyak duduk atau berbaring kearah kiri sehingga aliran darah menuju plasenta
tidak mengalami gangguan.
c. Pengawasan antenatal (hamil)
Bila terjadi perubahan perasaan dan
gerak janin dalam rahim segera datang ke tempat pemeriksaan. Keadaan yang
memerlukan perhatian:
1) Uji kemungkinan Pre-eklampsia:
a) Pemeriksaan
tekanan darah atau kenaikannya
b) Pemeriksaan
tinggi fundus uteri
c) Pemeriksaan
kenaikan berat badan atau edema
d) Pemeriksaan
protein dalam urin
e) Kalau mungkin
dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, gambaran darah umum dan
pemeriksaan retina mata.
2) Penilaian kondisi janin dalam rahim.
a) Pemantauan tinggi fundus uteri
b) Pemeriksaan janin: gerakan janin dalam rahim, denyut
jantung janin, pemantauan air ketuban
1. Penanganan
Pre-eklampsia
a. Penanganan Pre-eklampsia Ringan
Penanganan
Pre-eklampsia bertujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklampsia dan
pertolongan kebidanan dengan melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk
pertolongan dengan trauma minimal. Pre-eklampsia dan eklampsia tidak memberikan
respon terhadap diuretik (obat untuk membuang kelebihan cairan) dan diet rendah
garam. Penderita dianjurkan untuk mengkonsumsi garam dalam jumlah normal dan
minum air lebih banyak. sangat penting untuk menjalani tirah baring. Penderita
juga dianjurkan untuk berbaring miring ke kiri sehingga tekanan terhadap vena
besar di dalam perut yang membawa darah ke jantung berkurang dan aliran darah
menjadi lebih lancar. Untuk menurunkan tekanan darah dan mencegah kejang, bisa
diberikan magnesium sulfat intravena (melalui pembuluh darah). Jika pre-eklamsianya
bersifat ringan, penderita cukup menjalani tirah baring di rumah, tetapi harus
memeriksakan diri ke dokter setiap 2 hari. Jika perbaikan tidak segera terjadi,
biasanya penderita harus dirawat dan jika kelainan ini terus berlanjut, maka
persalinan dilakukan sesegera mungkin. Penderita pre-eklamsia berat dirawat di
rumah sakit dan menjalani tirah baring.
Pada Pre-eklampsia ringan penanganan
simptomatis dan berobat jalan dengan memberikan:
·
Sedativa ringan
§
Phenobarbital 3x30 mgr
§
Valium 3x10 mgr
·
Obat penunjang
o Vitamin B komplek
o Vitamin C atau
vitamin E
o Zat besi
·
Nasehat
ü Lebih banyak istirahat baring penderita juga dianjurkan
untuk berbaring miring ke kiri sehingga tekanan terhadap vena besar di dalam
perut yang membawa darah ke jantung berkurang dan aliran darah menjadi lebih
lancar.
ü Segera datang memeriksakan diri, bila tedapat gejala
sakit kepala, mata kabur, edema mendadak atau berat badan naik. Pernafasan
emakin sesak, nyeri pada epigastrium, kesadaran makin berkurang, gerak janin
melemah-berkurang, pengeluaran urin berkurang.
·
Jadwal
pemeriksaan hamil dipercepat dan diperketat.
Petunjuk untuk segera memasukkan
penderita ke rumah sakit atau merujuk penderita perlu memperhatikan hal
berikut:
ü Bila tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih
ü Protein dalam urin 1 plus atau lebih
ü Kenaikan berat badan ½ kg atau lebih dalam seminggu
ü Edema bertambah dengan mendadak
ü Terdapat gejala dan keluhan subjektif.
Bila keadaan
ibu membaik dan tekanan darah dapat dipertahankan 140-150/90-100 mmHg, tunggu persalinan
sampai aterm sehingga ibu dapat berobat jalan dan anjurkan memeriksakan diri
tiap minggu. Kurangi dosis obat hingga tercapai dosis optimal. Bila tekanan
darah sukar dikendalikan, berikan kombinasi obat. Tekanan darah tidak boleh
lebih dari 120/80 mmHg. Tunggu pengakhiran kehamilan sampai 40 minggu, kecuali
terdapat pertumbuhan terhambat, kelainan fungsi hepar/ginjal, dan peningkatan
proteinuria (3). Pada kehamilan >37 minggu dengan serviks matang, lakukan
induksi persalinan. Persalinan dapat dilakukan spontan atau dipercepat dengan
ekstraksi.
b. Penanganan Pre-eklampsia Berat
Bidan yang
mempunyai polindes dapat merawat penderita Pre eklampsia berat untuk sementara,
sampai menunggu kesempatan melakukan rujukan sehingga penderita mendapat
pertolongan yang sebaik-baiknya.
Penderita
diusahakan agar:
·
Terisolasi
sehingga tidak mendapat rangsangan suara ataupun sinar.
·
Dipasang infus
glukosa 5%
·
Dilakukan
pemeriksaan:
ü Pemeriksaan umum: pemeriksaan tiap jam; tekanan darah,
nadi, suhu dan pernafasan.
ü Pemeriksaan kebidanan: pemeriksaan denyut jantung janin
tiap 30 menit, pemeriksaan dalam (evaluasi pembukaan dan keadaan janin dalam
rahim).
ü Pemasangan dower kateter
ü Evaluasi keseimbangan cairan
ü Pemberian MgsO4 dosis awal 4 gr IV selama 4 menit
·
Setelah keadaan
Pre-eklampsia berat dapat diatasi, pertimbangan mengakhiri kehamilan
berdasarkan:
ü Kehamilan cukup bulan
ü Mempertahankan kehamilan sampai mendekati cukup bulan
ü Kegagalan pengobatan Pre eklampsia berat kehamilan
diakhiri tanpa memandang umur.
ü Merujuk penderita ke rumah sakit untuk pengobatan yang
adekuat.
Mengakhiri
kehamilan merupakan pengobatan utama untuk memutuskan kelanjutan Pre eklampsia
menjadi eklampsia. Dengan perawatan sementara di Polindes,
maka melakukan rujukan penderita merupakan sikap yang paling tepat.
2. Diet Komplikasi Kehamilan Pre-Eklampsia dan Eklamsia
a. Tujuan Diet
·
Mencapai dan
mempertahankan status gizi normal
·
Mencapai dan
mempertahankan tekanan darah normal
·
Mencegah atau
mengurangi tekanan darah normal
·
Mencapai
keseimbangan nitrogen
·
Menjaga agar
penambahan berat badan tidak melebihi normal
·
Mengurangi atau
mencegah timbulnya faktor risiko lain atau penyulit baru pada saat kehamilan
atau setelah melahirkan
b. Syarat Diet
Syarat-syarat
diet pre-eklampsia adalah:
1) Energi dan
semua zat gizi cukup. Dalam keadaan berat, makanan diberikan secara
berangsur-angsur, sesuai dengan kemampuan pasien menerima makanan. Penambahan
energi tidak lebih dari 300 kkal dari makanan atau diet sebelum hamil.
2) Garam diberikan
rendah sesuai dengan berat-ringannya retensi garam atau air. Penambahan berat
badan diusahakan di bawah 3 kg/bulan atau di bawah 1 kg/minggu.
3) Protein tinggi
(1 ½ g/kg berat badan)
4) Lemak sedang,
sebagian lemak berupa lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh ganda
5) Vitamin cukup; vitamin C dan B6 diberikan sedikit lebih tinggi
6) Mineral cukup
terutama kalsium dan kalium
7) Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan makan pasien
8) Cairan
diberikan 2500 ml sehari. Pada keadaan oliguria, cairan dibatasi dan
disesuaikan dengan cara yang keluar melalui urin, muntah, keringat, dan
pernafasan.
c. Macam diet dan
indikasi pemberian
1). Diet pre-eklampsia I
Diet pre-eklampsia I diberikan pada pasien pre-eklampsia
berat. Diet pre-eklampsia I diberikan sebagai
makanan perpindahan dari pre-eklampsia I atau kepada pasien pre-eklampsia yang
penyakitnya tidak begitu berat. Makanan berbentuk saring atau lunak dan diberikan
sebagai diet rendah garam I. makanan ini cukup energi dan zat gizi lainnya.
2). Diet pre-eklampsia II
Diet pre-eklampsia II diberikan sebagai
makanan perpindahan dari pre-eklampsia I atau kepada pasien pre-eklampsia yang
penyakitnya tidak begitu berat. Makanan berbentuk saring atau lunak dan
diberikan sebagai diet rendah garam I. Makanan ini cukup energi dan zat gizi
lainnya.
3). Diet pre-eklampsia III
Diet pre-eklampsia III diberikan
sebagai makanan perpindahan dari pre-eklampsia II atau kepada pasien
pre-eklampsia ringan. Makanan ini mengandung protein tinggi dan garam rendah,
diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Makanan ini cukup semua zat gizi.
Jumlah energi harus disesuaikan dengan kenaikan berat badan yang boleh lebih
dari 1 kg tiap bulan.
d. Bahan
Makanan Sehari
|
Bahan Makanan
|
Diet Pre-eklamsia I
|
Diet Pre-eklamsia II
|
Diet Pre-eklamsia III
|
|
Berat (g
|
Jumlah
|
Berat (g)
|
Jumlah
|
Berat (g)
|
Jumlah
|
|
Beras
|
-
|
-
|
150
|
3 gls tim
|
200
|
4 gls tim
|
|
Telur
|
-
|
-
|
50
|
1 btr
|
50
|
1 btr
|
|
Daging
|
-
|
-
|
100
|
2 ptg
|
100
|
2 ptg sdg
|
|
Tempe
|
-
|
-
|
50
|
2 ptg
|
100
|
4 ptg sdg
|
|
Sayuran
|
-
|
-
|
200
|
2 gls
|
200
|
2 gls
|
|
Sari buah/buah
|
1000
|
5
|
400
|
4 ptg sdg
|
400
|
4 ptg sdg pepaya
|
|
Gula pasir
|
80
|
8
|
30
|
3 sdm
|
30
|
3 sdm
|
|
Minyak nabati
|
-
|
-
|
15
|
1 ½ sdm
|
25
|
2 ½ sdm
|
|
Susu bubuk *
|
75
|
15
|
25
|
5 sdm
|
50
|
10 sdm
|
*) Susu khusus ibu hamil. Bila diberikan susu
biasa, energi hanya sebagian yang terpenuhi
e. Nilai gizi
|
Diet Pre eklamsia I
|
Diet Pre eklamsia II
|
Diet Pre eklamsia III
|
|
Energi (kkal)
|
1032
|
1604
|
2128
|
|
Protein (g)
|
20
|
56
|
80
|
|
Lemak (g)
|
19
|
44
|
63
|
|
Karbohidrat (g)
|
211
|
261
|
305
|
|
Kalsium (mg)
|
600
|
500
|
800
|
|
Besi (mg)
|
6,9
|
17,3
|
24,2
|
|
Vitamin A (RE)
|
750
|
2796
|
3035
|
|
Tiamin (mg)
|
0,5
|
0,8
|
1,0
|
|
Vitamin C (mg)
|
246
|
212
|
213
|
|
Natrium (mg)
|
228
|
248
|
|
.
f. Pembagian bahan
makanan sehari
|
Waktu
|
Bahan Makanan
|
Jumlah
|
|
Pukul 06.00
|
The
|
1 gls
|
|
Pukul 08.00
|
Sari tomat
|
1 gls
|
|
Susu
|
1 gls
|
|
Pukul 10.00
|
Sari jeruk
|
1 gls
|
|
Pukul 13.00
|
Sari alpokat
|
1 gls
|
|
Susu
|
1 gls
|
|
lPukul 16.00
|
Sari tomat
|
1 gls
|
|
Susu
|
1 gls
|
|
Pukul 18.00
|
Sari papaya
|
1 gls
|
|
Sari jeruk
|
1 gls
|
|
Pukul 20.00
|
The
|
1 gls
|
|
Susu
|
1 gls
|
g. Pembagian bahan makanan sehari diet pre-eklamsia II
& III
|
Waktu
|
Bahan makanan
|
Diet pre-eklamsia II
|
Diet pre-eklamsia III
|
|
Berat (g)
|
urt
|
Berat(g)
|
urt
|
|
Pagi
|
Beras
|
50
|
1 gls tim
|
50
|
1 gls tim
|
|
Telur ayam
|
50
|
1 btr
|
50
|
1 btr
|
|
Sayuran
|
5
|
½ sdm
|
50
|
½ sdm
|
|
Minyak
|
5
|
5 sdm
|
5
|
½ sdm
|
|
Susu bubuk
|
25
|
1 sdm
|
25
|
5 sdm
|
|
Gula pasir
|
10
|
1 sdm
|
10
|
1 sdm
|
|
Pukul 10.00
|
Buah
|
100
|
1 ptg sdg pepaya
|
100
|
1 ptg sdg pepaya
|
|
Gula pasir
|
10
|
1 sdm
|
10
|
1 sdm
|
|
Siang
|
Beras
|
50
|
1 gls nasi
|
75
|
1 ½ gls nasi
|
|
Daging
|
50
|
1 ptg sdg
|
50
|
1 ptg sdg
|
|
Tahu
|
50
|
½ bh besar
|
100
|
1 bh besar
|
|
Sayuran
|
75
|
¾ gls
|
100
|
1 bh besar
|
|
Buah
|
100
|
1 ptg sdg papaya
|
100
|
1 ptg sdg papaya
|
|
Minyak
|
5
|
½ sdm
|
10
|
1 sdm
|
|
Pukul 16.00
|
Buah
|
100
|
1 ptg sdg
|
100
|
1 ptg sdg
|
|
Gula pasir
|
10
|
1 sdm
|
10
|
1 sdm
|
|
Susu bubuk
|
-
|
-
|
25
|
5 sdm
|
|
Malam
|
Beras
|
50
|
1 gls nasi
|
75
|
1½ gls nasi
|
|
Ikan
|
50
|
1 ptg sdg
|
50
|
1 ptg sdg
|
|
Tempe
|
25
|
1 ptg dg
|
50
|
2 ptg sdg
|
|
Sayuran
|
75
|
¼ gls
|
75
|
¾ gls
|
|
Buah
|
100
|
1 ptg sdg papaya
|
100
|
1 ptg sdg papaya
|
|
Minyak
|
5
|
½ sdm
|
10
|
1 sdm
|
h. Contoh menu sehari
|
Pagi
|
Siang
|
Malam
|
|
Nasi tim
|
Nasi tim
|
Nasi tim
|
|
Telur ceplok air
|
Daging bumbu terik
|
Ikan bumbu kuning
|
|
Tumis kacang panjang toge
|
Tahu bacam
|
Gandong tahu
|
|
Susu
|
pisang
|
Jeruk
|
|
Pukul 10.00
|
Pukul 16.00
|
Pukul 20,00
|
|
Selada buah
|
Jeruk
|
The
|
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
1. Pre-eklampsia (toksemia gravidarum)
adalah tekanan darah tinggi yang disertai dengan proteinuria (protein dalam air
kemih) atau edema (penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20 minggu
sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.
2. Tujuan diet pre-eklampsia adalah
mencapai dan mempertahankan status gizi normal, mencapai dan mempertahankan
tekanan darah normal, mencegah atau mengurangi tekanan darah normal, mencapai
keseimbangan nitrogen, menjaga agar penambahan berat badan tidak melebihi
normal, mengurangi atau mencegah timbulnya faktor risiko lain atau penyulit
baru pada saat kehamilan atau setelah melahirkan
B. Saran
1. Diharapkan bagi petugas kesehatan dapat
memberikan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan bagi ibu hamil mengenai
dampak yang dapat terjadi dari komplikasi pada masa kehamilan.
2. Bagi ibu hamil agar rajin dan
memeriksakan kehamilannya secara rutin (setidaknya 1 kali setiap bulannya)
dengan harapan dapat mengurangi risiko komplikasi pada kehamilan
3. Ibu hamil sebaiknya selalu mengkonsumsi
makanan yang bergizi selama kehamilanya agar terhindar dari bahaya komplikasi
kehamilan.
4. Sebaiknya ibu hamil segera menghubungi
tenaga kesehatan terdekat jika terjadi tanda-tanda komplikasi kehamilan agar
dapat segera memperoleh penanganan.